Rabu, 11 Mei 2011

permulaanku berblog

Dilahirkan kedunia, aku bersyukur kehadrat illahi mengizinkan aku menghirup udara di dunia sementara ini.menjadi anak kepada sepasang kekasih, yang membina perhubungan rumah tangga atas dasar cinta, atas dasar menggapai syurga, mengimpi melahirkan zuriat yg bakal mewarisi wasiat para anbia, aku kagum dengan nilai percintaan yang dibina kalian, ayah dan bonda.sejak dilahirkan, aku diselimutkan dengan kasih sayang oleh kalian, segala keinginan ku dipenuhkan, tidak kurang juga didikan agama mengisi kekosongan jiwa, alhamdulillah atas jasa kalian, aku kini bergelar seorang insan yang hidup berlandaskan al quran. tapi tuhan lebh meyayangi dirimu ayah, usiaku batu menjengan 20 tahun, kau telah pergi mnghadap illahi, meninggalkan aku sebagai penguat semangat kepada bonda dan adik2. berat sungguh tanggungjawab yang ditinggalkan untuk diriku pikul ayah.

2 bulan pemergianmu, mungkin tuhan mendengar tangisanku hampir setiap hari, aku di hadiahkan dengan perkenalan dengan seorang insan, dan ingin aku selitkan disini, kehadiranya bagai membakar kembali lilin yang terpadam dalam diriku, terang kembali kehidupanku. Didalam kegembiraan, aku mengikat tali pertunangan denganya, sehari sebelum genab pemergianmu 1 tahun. Ada yang menyanggah aku gopoh, ada yang berbisik aku masih tidak matang, tidak ku hiraukan, kerna aku mewarisi semangatmu.

selang beberapa hari sahaja lagi, genab lah perkenalanku denganya 1 tahun, tapi ibarat pepatah, jangan disangka panas sampai kepetang,lilin panjang yang dibakar dia mulai merapat lantai, begitulah nasib yang sedang menimpaku kini. kekadang aku melengu bingung, didalam keserabutan menempuh seribu satu masalah, kenapa aku makin ditubi dengan masalah ini.

mungkin sebelum ini aku kuat menggenggam semangat hidupmu ayah, tapi hari ini aku amat lemah, terlalu lemah dan amat tidak terdaya menempuh ujian ini. aku juga sering terpikir ayah, mungkinkah segala keserabutan ini terjadi sebagai mengkifaratkan dosa2 ku?? mungkin jua ayah.... tuhan tidak mahu aku berdepan menghadapnya dalam keadaan kotor dan hina... aku terima ini ayah...

Melalui di pinggiran kuburanmu, aku menjengah, masih ada ruangan kosong di sampingmu, indahkan andai nisanku yang terpacak di situ,mungkin tidak lama lagi, aku akan kembali berada disisimu menemani dirimu ayah, disana keluarga kita akan kembali bersatu, disana bukan lagi ukiran2 kenangan yang menipu, dan yang pasti disana bukanlah sebuah mimpi, tapi realiti yang pasti... aku amat merinduimu ayah....

Tiada ulasan:

Catat Ulasan